“Miracle” Itu Nyata…

@Aryeenmita, Bogor, – Baru kali ini, saya tersadar bahwa “Miracle” itu memang benar adanya dan nyata. Bukan hanya di kisah dongeng Princess belaka, yang selalu ada bantuan dari para peri mungil dan berakhir bahagia dengan seorang pangeran ganteng.

Entah bagaimana memulai kisahya. Tapi, nyatanya kisah pertemuan kami, saya dan suami seperti dongeng. Jujur, saya sempat berpikir, apakah ini pengaruh dari novel yang saya baca. Ugh, entahlah…

Tapi, ini bukan dongeng romantis lho, tapi aneh…hahaha.

Bayangkan sejak SMP, dia itu musuh bebuyut saya. Pelit catatan, duh amit-amit deh. Malah ada cerita, ketika saya hanya menanyakan clue dari jawaban Biologi (saat ulangan sih, tapi asli kepepet. Jujur, bukan tipe nyontek, cuma nanya kata depan aja), eh, dia justru buang muka. Ih , kesel setengah mati. Padahal, saya ini sering banget bagikan contekan ke teman-teman yang kepepet enggak bisa jawab. Ya, tapi beneran sejak saat itu, bete banget.

Tapi, anehnya, dia seringkali ketahuan suka diam-diam memerhatikan saya. Ih, sori ya, enggak mau eke….hahaha.

Berlanjut ke SMA yang berbeda, tentu saja kami tidak pernah bertemu. Tapi, ya kok dia sempat-sempatnya titip surat ke sahabat SMA saya. Sudah tahu saya bersekolah di sekolah homogen, yang isinya perempuan semua. Ya, sudah tentu saya jadi bahan olokan. Ih, jadi makin bete. Tapi, ya mau gimana lagi.

Begitu masuk kuliah, dia nanya lagi jurusan dan kampus dimana. Ih, nyebelin. Kepo deh. Tapi, ya diterima aja. Wong, enggak masuk ‘hitungan’.

Setelah semuanya itu, kami lost in contact. Ya, kurang lebih hampir 10 tahun, akhirnya kami dipertemukan lagi. Tapi, lewat Friendster (skrg sudah wafat) dia coba mencari saya. Tapi, lagi-lagi saya cuek aja, ya udah di-add saja.

Tapi, entahlah perjalanan cinta saya ini super duper complicated , sampai bikin Mama saya bingung, maunya saya itu apa… (maklum, bukan tipe rumahan).

Ya, saya enggak sampe hati menceritakan betapa ‘menderitanya’ saya harus menghadapi semuanya kala itu. Tapi, Tuhan memang punya cara berbeda. Ya, Dia menunjukkan bagaimana “Miracle” itu sungguh nyata.

Mungkin buat saya, dia (suami) tidak termasuk “hitungan”, tapi justru Tuhan memberikannya untuk saya dengan cara yang unik.

Memang, dia hanya seseorang yang sederhana, tutur katanya, perilakunya. Malah, bisa dibilang saya harus belajar menerima pribadi yang kontras ini.

Tapi, begitu kami mengikatkan diri dalam tali pernikahan pada 07.08.09 di Yogyakarta, percaya atau tidak. Muncullah “Miracle-miracle” mungil yang kami peroleh.

Hingga kini, saya yakin “Miracle” sesungguhnya itu adalah Dia, kamu, dan si Kecil.

Ayo, kita jalani bersama semuanya!…

Jangan Cintai Aku Apa Adanya by Tulus

Jangan cintai aku

Apa adanya

Jangan

 

Tuntutlah sesuatu

Biar kita jalan

ke depan

 

Iklan

Eh, Kok Ada Website Tetangga? Jadi Malu, Ah!

@Aryeenmita, Bogor, – Sudah lama sih, si Tomi nanyain via chatting tentang resolusi tahun depan alias 2014.

Tomi: “Mita, mau tahu dong resolusi ringan loe buat tahun depan?”

Aryeen: “Eh, iya apa ya? Lagi mikir nih..hehehe.”

Tomi: “Yang ringkas aja, asal bisa dilakuin.”

Aryeen: “Ya udah , gue pengin enggak panikan aja deh.”

Tomi: “Oke…thanks ya”

Hari ini, tumben penginnya kok saya browsing melulu ya. Eh, kok tahu-tahu ada resolusi saya yang ditanyain sama si Tomi. Eh, di-screenshot dulu ah!

Screenshot tentang resolusi tahun baru di website Ghiboo.com

Screenshot tentang resolusi tahun baru di website Ghiboo.com

 

Let’s positive thinking

Selamat Ulang Tahun, Sayang… (14 Juli 2014)

@Aryeenmita, Bogor, – Mungkin memang tidak ada perayaan khusus di ulang tahunmu, sayang. Usiamu kini sudah 33 tahun…wah, sudah tambah tua ya.

Tapi, sekali lagi memang aku bukanlah orang yang romantis. Tak ada lilin seperti film-film romantis, yap biasa disebut candle light dinner. Wuih, boro-boro deh.

Tahukah kamu, aku sangat ingin memberikan kejutan. Namun, mungkin belum sempat saja.

Arya dan moi, di  Yogyakarta (Foto: @Aryeenmita)

Arya dan moi, di Yogyakarta (Foto: @Aryeenmita)

Sejujurnya, aku kerap bertanya dalam batin,“Kok bisa ya, punya suami seperti dia, yang super cuek, idealis, beda karakter, super enggak romantis (mon cherie m’a jamais dit “Je t’aime”). So, aneh! Tapi, kami dipertemukan kembali setelah’ berpisah hampir belasan tahun lalu, padahal sejak SMP musuhan, ughh capek deh.”

Lucu juga sih, tapi ya itulah kenyataan yang mesti dijalani. Dan kini kamu sudah 33 tahun dan menjalani biduk pernikahan kita hampir 5 tahun.

Di hari ultahmu ini, aku hanya bisa berdoa…berdoa…berdoa. Inilah satu-satunya cara dapat mengungkapkan cinta, ku kepadaNya dan kepadamu.

Ya, kamu tidak perlu tahu apa isi doaku. Percayalah bahwa kamu dan aku saling mencintai lewat doa.

Sayang, melangkahlah dengan bijak bersama Dia dan kejarlah impian terbesarmu….

Tuhan senantiasa memberkati

Istri dan anakmu terkasih

 

Bongkar Diary

Sejujurnya tanpa direncanakan, aku menemukan

kembali tulisan kegalauanku di masa lalu. Ya! Inilah kisahnya…

 

Si Bayi Rafael (Foto: @Aryeenmita)

Si Bayi Rafael (Foto: @Aryeenmita)

Yogyakarta, September 2011, di RS Bethesda…

@Aryeenmita, Yogyakarta, – Rasanya hari itu luar biasa panik. Vonis dokter mengharuskan aku cesar.“Haruskah, dokter?” tanyaku.

Dokter dengan tegas menjawab,“Hanya itu cara terbaik menyelamatkan bayi. Dia terlilit dua kali tali pusat dan kurang cairan ketuban. Bila terlalu lama menunggu, dia meninggal di dalam rahim.”

“Saya tidak ingin mengambil risiko. Paling lambat hari minggu, lakukan operasi caesar.”

Si Arya lagi senyum (Foto:@Aryeenmita)

Si Arya lagi senyum (Foto:@Aryeenmita)

Usai konsultasi, aku hanya bisa terdiam sejenak memandang hasil USG. Dan masih terheran-heran, “Kan, kata dokter di Jakarta, semua posisi persalinan kondisinya bagus, tapi mengapa hasilnya berbeda, Aku benci caesar. Aku ingin merasakan persalinan normal.”

Tak habis akal, aku langsng mengaktifkan smartphone-ku. Ya, aku mulai cari tahu soal kondisi bayiku lewat bantuan ‘Mbah Google’. Waduh, memang benar.

Bila menunggu terlalu lama, justru bayiku yang ‘kasihan’. Tak pikir panjang lagi, aku bbm suamiku, Tio, meminta saran terbaik mengenai keputusan apa yang terbaik.

“Ayah (panggilanku kepadanya), aku takut. Ayah, datangnya hari sabtu pagi ya. Langsung ke RS.”

Tio menjawab,“Ya sudah, besok aku datang. Sudah tenang saja. Semuanya pasti lancar.”

Lagi-lagi, aku tidak bisa membendung air mata. Tiap lelehan air ini senantiasa memanjatkan doa yang tidak putus-putusnya untuk menghindari tindakan caesar.

Jujur, aku tidak siap mental dan finansial. Semua yang kupersiapkan hanya untuk persalinan normal. Kalau begini hasilnya, rasanya ingin menyerah saja.

Hari itu, aku diantar Mama. Langsung kuputuskan menanyakan total biaya caesar.

“Hah, perkiraan biaya kelas 1 memakan biaya 18 juta. Lalu, 11 juta untuk kelas 2.Waduh, dapat uang dari mana? Mana uang kami tak seberapa,“ gumamku dalam batin.

Kepalaku tertunduk lesu. Belum lagi, pengeluaran bulan ini bejibun, apalagi biaya ini harus keluar dari kantong pribadi.

Aku hanya bisa pasrah sembari memanjatkan doa semoga ada jalan. Beruntung, setiap doa yang terpanjat , Tuhan menjawab. Ada kebaikan yang tak terduga (Yes! There is the invisble hand).

Akhirnya, semua berjalan lancar dan lahirlah buah hati kami, Rafael HadyatmoAryaprastha. Uniknya, nama anak kami ini adalah gabungan dari nama Baptis (Rafael), eyang kakung (Hady + Atmo), dan orangtuanya (Pras+ Mita)

Ya! Arya, panggilannya, lahir 24 September pukul 12.30 dengan fisik yang sempurna.

Terima kasih atas kebaikanMu….

Ps: Tiada yang mustahil bagi DIA saat tiada jalan.

Hai….saya Aryeen

@Aryeenmita, Bogor, – Hai…perkenalkan, saya Aryeen. Inilah kali pertama, saya kembali menulis blog setelah sekian lama vakum. Bukan apa-apa, karena dulu saya lupa password di blog lama, jadi agak malas (jujur banget).

Akhirnya, saya pikir-pikir, kok enggak seru ya, dan sejujurnya saya kangen juga menulis lagi…hahaha.

Aryeenmita (Foto:@Aryeenmita)

Aryeenmita (Foto:@Aryeenmita)

Alasannya sederhana, saya sadar bahwa apa yang terjadi dalam hidup ini tak terulang lagi. Dan blog dapat menjadi salah satu dokumentasi hidup saya.

Tentu saja, saya juga enggak mau menikmatinya sendiri, mungkin di antara yang sempat mampir ke blog saya ini juga menikmatinya. Ya, inilah kekuatan berbagi.

Tanpa berpanjang kata, monggo…sugeng rawuh di rumah Aryeen yang bernama “Aryeenmita” (J.U.J.U.R– A.P.A– A.D.A.N.Y.A)

Salam hangat,

Aryeen Mita