Keren! Ada Variasi Bir

Tasty New York (atas) 'n Glorious Jakarta (bawah)

Tasty New York (atas) ‘n Glorious Jakarta (bawah)

@Aryeenmita, Jakarta, – Bir…bir…bir…Ya! Minuman ini memang populer di telinga kita. Ternyata, minuman ini, mengutip dari wikipedia, sudah ada sejak 5000 SM dan telah tercatat di sejarah tertulis Mesir Kuno dan Mesopotamia. Ih, Keren!

Kala itu, @Aryeenmita diajak menemukan “Hidden Gems” salah satu merek ternama Bir. Dan memang perjalanan ini benar-benar buta. Kami sengaja diajak bepergian dengan bus yang jendelanya ditutup poster.

Akhirnya, kami sampai juga di sebuah tempat hangout bernama Salihara. Di sana, kami dimanjakan dengan suguhan tak biasa. Boleh dibilang unik. Ada aneka camilan tradisional dan tentu saja ada suguhan bir.

Cerita soal bir, ada dua jenis bir yang disediakan. Ada Tasty New York, bir Heineken dengan yang dipadu dengan lemon, tequila, dan apel. Benar-benar segar di lidah. Atau pilihan lainnya, Glorious Jakarta, bir dengan sentuhan jahe, jeruk, daun jeruk, dan garnish berupa mentium dan salmon segar.

Kembali soal “hidden gems” Menurut Jessica Setiawan, Marketing Manager Heineken, sebenarnya ini juga dipicu dari fenomena FOMO (Fear of Missing Out), kini menjangkiti kaum urban, yang selalu berada dalam tren tersebut.

Karena itu, sambung Jessica, Heineken dengan tagline “Open Your City” berusaha kembali merekomendasi tempat-tempat hangout dari para konsumen.

“Cukup masukkan kode unik yang ada dibalik tutup botol. Mampir ke website http://www.heineken.com/openyourcity dan jawab pertanyaan seputar ‘Open Your City,” ujar Jessica.

Lagi ujarnya, konsumen Heineken juga dapat mengaktifkan fitur geotag melalui Twitter @WhereNext.

Tentu saja, kalau semakin Anda rajin merekomendasikan tempat-tempat hangout “hidden gems” akan diberikan ganjaran. “Akan ada hadiah perjalanan ke New York yang spesial. Pemenang akan diajak berpetualang di ‘hidden gems’ di sana,” ujar Jessica.

Menariknya, kali ini botol Heineken juga mencantumkan kota Jakarta. “Botol-botol special edition ‘city edition’ ini hanya berlaku empat bulan saja, dari Agustus hingga November. Ini artinya, Jakarta itu bagian dari kota-kota terpilih dari Heineken, seperti London, Rio de Jainero, Amsterdam, Shanghai, dan New York,” imbuhnya.

 

 

 

Bangga, Kopi Asal Batak Mendunia

@Aryeenmita, Jakarta, Sejujurnya, saya gemas mengapa gerai-gerai francise itu bertebaran di Indonesia, tapi kok produk lokal jadi nglokro alis pasif. Tapi, belakangan kok saya malah tersentak dengan cara unik untuk “menduniakan” produk lokal. Salah satunya, dengan apa yang dikerjakan oleh managemen Starbucks Reverse.

Sumatera Blue Batak (Foto: @Aryeenmita)

Sumatera Blue Batak

Menurut Sari Siswarni, Marketing Starbucks Reverse, gerai berlambang bintang ini hanya menyajikan produk kopi berkategori exotic, rare, dan exquisite.

“Saat ini tersedia Finca Nuevo Mexico sun-dried dan Ethiopia Yirgacheffe. Nah, yang membanggakan pada April lalu, dikeluarkan produk dari Indonesia, yakni Sumatera Blue Batak. Dan nantinya, produk kopi ini akan dipasarkan di negara lain. It’s very proud!” jelas Sari kepada @Aryeenmita.

Saya bergetar mendengarnya. Akhirnya, produk lokal mendunia lewat gerai franchise. Ya, kalau dipikir mesti adil juga dong. Kan, mereka berjualan di sini…hehehe.

Selain itu, yang membuat saya terpana itu adalah Starbucks bertagline ultra premium brand experience ini memiliki interior nan elegan. Terdapat dinding kayu dengan mural tanaman kopi, lengkap dengan juntaian daun dan biji kopinya. Uniknya, lantai juga dari kayu dengan sentuhan warna hijau kebiruan, yang menunjukkan warna kopi yang telah diolah.

Tak berhenti di situ, para penyaji kopi menggunakan black apron Starbucks. Ini artinya, mereka memegang sertifikat coffee master. Wow!

PS: Starbucks Reverse, Grand Indonesia Ground Floor, West Mall, Jakarta

“Miracle” Itu Nyata…

@Aryeenmita, Bogor, – Baru kali ini, saya tersadar bahwa “Miracle” itu memang benar adanya dan nyata. Bukan hanya di kisah dongeng Princess belaka, yang selalu ada bantuan dari para peri mungil dan berakhir bahagia dengan seorang pangeran ganteng.

Entah bagaimana memulai kisahya. Tapi, nyatanya kisah pertemuan kami, saya dan suami seperti dongeng. Jujur, saya sempat berpikir, apakah ini pengaruh dari novel yang saya baca. Ugh, entahlah…

Tapi, ini bukan dongeng romantis lho, tapi aneh…hahaha.

Bayangkan sejak SMP, dia itu musuh bebuyut saya. Pelit catatan, duh amit-amit deh. Malah ada cerita, ketika saya hanya menanyakan clue dari jawaban Biologi (saat ulangan sih, tapi asli kepepet. Jujur, bukan tipe nyontek, cuma nanya kata depan aja), eh, dia justru buang muka. Ih , kesel setengah mati. Padahal, saya ini sering banget bagikan contekan ke teman-teman yang kepepet enggak bisa jawab. Ya, tapi beneran sejak saat itu, bete banget.

Tapi, anehnya, dia seringkali ketahuan suka diam-diam memerhatikan saya. Ih, sori ya, enggak mau eke….hahaha.

Berlanjut ke SMA yang berbeda, tentu saja kami tidak pernah bertemu. Tapi, ya kok dia sempat-sempatnya titip surat ke sahabat SMA saya. Sudah tahu saya bersekolah di sekolah homogen, yang isinya perempuan semua. Ya, sudah tentu saya jadi bahan olokan. Ih, jadi makin bete. Tapi, ya mau gimana lagi.

Begitu masuk kuliah, dia nanya lagi jurusan dan kampus dimana. Ih, nyebelin. Kepo deh. Tapi, ya diterima aja. Wong, enggak masuk ‘hitungan’.

Setelah semuanya itu, kami lost in contact. Ya, kurang lebih hampir 10 tahun, akhirnya kami dipertemukan lagi. Tapi, lewat Friendster (skrg sudah wafat) dia coba mencari saya. Tapi, lagi-lagi saya cuek aja, ya udah di-add saja.

Tapi, entahlah perjalanan cinta saya ini super duper complicated , sampai bikin Mama saya bingung, maunya saya itu apa… (maklum, bukan tipe rumahan).

Ya, saya enggak sampe hati menceritakan betapa ‘menderitanya’ saya harus menghadapi semuanya kala itu. Tapi, Tuhan memang punya cara berbeda. Ya, Dia menunjukkan bagaimana “Miracle” itu sungguh nyata.

Mungkin buat saya, dia (suami) tidak termasuk “hitungan”, tapi justru Tuhan memberikannya untuk saya dengan cara yang unik.

Memang, dia hanya seseorang yang sederhana, tutur katanya, perilakunya. Malah, bisa dibilang saya harus belajar menerima pribadi yang kontras ini.

Tapi, begitu kami mengikatkan diri dalam tali pernikahan pada 07.08.09 di Yogyakarta, percaya atau tidak. Muncullah “Miracle-miracle” mungil yang kami peroleh.

Hingga kini, saya yakin “Miracle” sesungguhnya itu adalah Dia, kamu, dan si Kecil.

Ayo, kita jalani bersama semuanya!…

Jangan Cintai Aku Apa Adanya by Tulus

Jangan cintai aku

Apa adanya

Jangan

 

Tuntutlah sesuatu

Biar kita jalan

ke depan

 

Ingat-ingat Lagi Batu Caves

@Aryeenmita, Kuala Lumpur, – Lagi-lagi @Aryeenmita iseng-iseng buka laptop. Eh, kok ada ya foto-foto jalan-jalan pas dua tahun lalu. Ya, lumayan deh, coba ah diotak-atik, mungkin saja bisa jadi cerita…hahaha.

Dewa Murungan berwarna emas ini tertinggi di dunia, yang memiliki tinggi 42,7 meter.

Dewa Murugan berwarna emas ini tertinggi di dunia dengan tinggi mencapai 42,7 meter. (Foto: @Aryeenmita)

Sejujurnya, ini pertama kalinya @Aryeenmita mengunjungi bukit kapur. Dari kejauhan di bukit yang bernama Batu Caves ini sudah terlihat patung keemasan dengan tinggi 42,7 meter. Itulah patung Dewa Hindu yang bernama Dewa Murugan.

Tak hanya itu, di bawah kaki Dewa Murugan itu, puluhan burung merpati bebas beterbangan. Ah, mereka seakan mengucapkan selamat datang sebelum memasuki “Sang Penjaga” Batu Caves.

Puas “bermain” sejenak dengan burung-burung itu, @Aryeenmita bersama keluarga menatap ke atas. Wow! Ada ratusan anak tangga, yang mengantarkan yang berjumlah berjumlah 272 buah. Itulah penghubung yang mengantarkan @Aryeenmita menuju salah satu Gua utama dari tiga Gua di Batu Caves, yakni Gua Kuil.

@Aryeenmita lumayan kelelahan ‘mendaki’ 272 tangga menuju Gua Kuil.

@Aryeenmita lumayan kelelahan ‘mendaki’ 272 tangga menuju Gua Kuil. (Foto: @Aryeenmita)

Saat menuju Gua Kuil, bersiaplah bertemu dengan monyet berekor panjang yang menemani Anda menaiki anak tangga. Hmm…tapi, berhati-hatilah dengan aksinya, apalagi kalau Anda membawa makanan atau sedang mengemil makanan .

“Awww…” begitulah teriakan salah satu pengunjung yang sontak menarik perhatian. Ternyata, ada seekor monyet mencuri paksa biskuit, lalu dia tetap membuntuti pengunjung itu. Alhasil, pengunjung pun menyerahkan sebungkus biskuit tersebut.

Anehnya, tiba-tiba saja banyak monyet ‘turun’ dari persembunyian dan saling berebut makanan. Sayangnya, kalau mau mengambil potret monyet ini sedikit waspada sebab agak ‘galak’. Meski begitu, aksi ‘nakal’ nya ini sempat mengocok perut, sekaligus membuat bulu kuduk merinding.

Setelah berhasil mengalahkan 272 tangga, tibalah saatnya Anda pemandangan Gua utama ini dihiasi lukisan mengenai mitos epik India. Di sini pula, terlihat umat Hindu, khususnya dari India tengah khusuk berdoa.

Namun, di satu sisi, @Aryeenmita agak terusik dengan aroma tak sedap dari gua. Ya, mungkin ini bau dari kotoran kelelawar yang berserakan, entah itu di dalam dinding gua, jalanan, hingga pegangan tangga.

Terlepas dari semuanya itu, bila Anda hendak datang ke Batu Caves, cobalah datang di bulan Februari. Sebab Anda dapat menyaksikan Festival Thaipusam, ritual agama Hindu dengan membawa wadah berisi susu kepada Dewa Murugan.

Eh, Kok Ada Website Tetangga? Jadi Malu, Ah!

@Aryeenmita, Bogor, – Sudah lama sih, si Tomi nanyain via chatting tentang resolusi tahun depan alias 2014.

Tomi: “Mita, mau tahu dong resolusi ringan loe buat tahun depan?”

Aryeen: “Eh, iya apa ya? Lagi mikir nih..hehehe.”

Tomi: “Yang ringkas aja, asal bisa dilakuin.”

Aryeen: “Ya udah , gue pengin enggak panikan aja deh.”

Tomi: “Oke…thanks ya”

Hari ini, tumben penginnya kok saya browsing melulu ya. Eh, kok tahu-tahu ada resolusi saya yang ditanyain sama si Tomi. Eh, di-screenshot dulu ah!

Screenshot tentang resolusi tahun baru di website Ghiboo.com

Screenshot tentang resolusi tahun baru di website Ghiboo.com

 

Let’s positive thinking

Jadi Pencicip Pertama Varian Baru Haagen-Dazs

@Aryeenmita, Jakarta, – Entah karena sangat terik ya hari ini, @Aryeenmita coba mengisahkan kembali pengalaman pertama makan es krim keluaran baru Haagen-Daaz.

Caramel Biscuit  and Cream Carnival (Foto: @Aryeenmita)

Caramel Biscuit and Cream Carnival (Foto: @Aryeenmita)

Ya, waktu itu, @Aryeenmita berkesempatan datang ke gerai Haagen-Dazs di Pacific Place, SCBD, Jakarta.

Caramel Cookies Sensation

Caramel Cookies Sensation (Foto:@Aryeenmita)

Memang kala itu, Haagen-Dazs—yang telah berdiri sejak 1921—tengah mengeluarkan varian baru. Dan kami dipersilakan mencicipinya terlebih dulu.

Tahun ini, ice cream Haagen-Dazs mengeluarkan tiga varian rasa. Sebut saja, Caramel Biscuit and Cream Carnival, Caramel Double Fantasy, dan Caramel Cookies Sensation.

Memang saat itu, @Aryeenmita menyaksikan Chef Anwar, Chef Haagen-Dazs yang memeragakan step by step pembuatan varian Caramel Biscuit and Cream Carnival. @Aryeenmita pun memerhatikan dengan seksama.

Caramel Double Fantasy

Caramel Double Fantasy (Foto: @Aryeenmita)

 

Begitu ditanya host, apa saja bahannya? @Aryeenmita dapat menjawabnya. Dan hadiahnya: menjadi orang pertama, pencicip ice cream Haagen-Dazs di Indonesia . Wah, senangnya!

Dibalik semua kebesaran brand luar negeri, apakah nantinya akan menyusul es krim “rasa Indonesia” juga mendunia?

PS: Gerai Haagen-Dazs Pacific Place, Jakarta, Juni 2014

Sejenak Berada di Pulau Terujung Jakarta

@Aryeenmita, Kepulauan Seribu, – Memang sih perjalanan saya kali ini tidak disengaja. Berhubung di telepon Atasan, ya, saya berangkat saja karena ada CSR sebuah bank swasta. Tapi, karena memang suka bertualang, saya benar-benar menikmatinya dan menemukan“Harta Karun”.

Jejeran kapal nelayan yang seakan menyambut kedatangan tamu

Jejeran kapal nelayan yang seakan menyambut kedatangan tamu (Foto: @Aryeenmita)

Kala itu, saya melipir dulu ke Pantai Marina Ancol. Sebab inilah dermaga yang mengantarkan saya menuju Pulau Sabira, bagian dari gugusan Kepulauan Seribu. Ya! Pulau terujung Jakarta.

Perjalanan Tiga Jam

Saya pun naik speed boat bersama teman-teman lainnya. Dan lumayan banget deh, perut saya terkocok-kocok hampir tiga jam. Wuih, dahsyat! Untung, di awal perjalanan, saya sempat minum antimo. Tapi, lumayan lah, saya enggak terlalu mual. Maklum, ombaknya agak tinggi.

Kisah Penduduk hingga Camilan

Begitu tiba di Pulau Sabira, saya mencium bau laut. Lalu, ada deretan kapal-kapal nelayan seakan menyapa Anda. Tentu saja, warga sekitar yang sudah berkumpul di area dermaga dan siap memberikan senyuman.

Begitu masuk ke dalam pulau, terlihat deretan rumah kayu yang berjejer. Rata-rata di sini, rumahnya tingkat. Boleh dibilang, “kampung” di sini rapi dan bersih.

Inilah kondisi rumah-rumah penduduk di Pulau Sabira. Biasanya, rumah mereka itu berasal dari kayu menteru, kayu kokoh dari Bangka

Inilah kondisi rumah-rumah penduduk di Pulau Sabira. Biasanya, rumah mereka itu berasal dari kayu menteru, kayu kokoh dari Bangka. (Foto: @Aryeenmita)

Beruntung, saya boleh istirahat di salah satu rumah warga , yang juga ketua RW, Ibu Hajjah Hartuti (68 tahun).

Ternyata, Ibu Hajjah ini sudah tinggal di Pulau Sabira ini sejak tahun 1978. “Dulu pulau ini luasnya 10 hektar, sekarang tinggal 8,5 hektar. Kini, ada 152 KK dengan jumlah jiwa sebanyak 555 jiwa,” ungkap Hartuti kepada @Aryeenmita.

Selain itu, beliau bercerita bahwa di Pulau ini tidak ada pasokan listrik. Tapi, listrik berasal dari PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) dan PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel).

Oh, pantas saja di beberapa titik terdapat PLTS, yang bentuknya menyerupai atap. Ada di  dekat masjid, atau sekolah, dan sebagainya.

“Dari pagi sampai sore, kami menggunakan PLTS. Tapi, itu kalau ada matahari, kalau tidak, ya, tidak ada pasokan listrik. Dari jam 17.00 sampe jam 07.00 pagi, kami mengunakan PLTD,” ujar Hartuti.

Ya! karena Pulau ini banyak yang mendiaminya adalah suku Bugis, sehingga camilan khas mereka itu bernama kue barangko

Ya! karena Pulau ini banyak yang mendiaminya adalah suku Bugis, sehingga camilan khas mereka itu bernama kue barangko. (Foto: @Aryeenmita)

Di sela-sela obrolan, @Aryeenmita disuguhi camilan khas warga Sabira. “Namanya kue barangko. Kue ini khas Bugis, terbuat dari olahan pisang kepok dan telur. Enaknya kalau dimakan saat dingin,” kata Hartuti.

Mercusuar dan Pohon di pinggir Pulau

Mendengar dari kata teman-teman ada mercusuar, saya pun berpamitan dengan ibu Hajjah Hartuti dan pergi menelusuri pulau. Sepanjang perjalanan, saya benar-benar merasakan “Kampung” Nelayan. Ya! Ada ikan-ikan selar dijemur, selain pakaian yang dijemur tentunya. Lalu, ada juga kerupuk ikan yang dijemur.

Nah, begitu saya melewati masjid Nurul Bahri, P. Sabira, Kel. P. Harapan, Kec. P. Seribu Utara, Kab.Adm, Kep. Seribu, DKI Jakarta, yang diarealnya terdapat PLTS, pandangan saya tertumbuk pada mercusuar berwarna putih.

Mercusuar ini unik lho. Ternyata, ini sudah ada dari zaman Belanda, tahun 1869. Sayangnya, mercusuar ini dikunci.

Mercusuar ini unik lho. Ternyata, ini sudah ada dari zaman Belanda, tahun 1869. Sayangnya, mercusuar ini dikunci. (Foto: @Aryeenmita)

“Hei, kok putih ya? Kan, biasanya, coklat ya,” saya membatin. Justru, karena beda dari mercusuar biasanya, saya langsung memotret dari kejauhan. Begitu didekati, ternyata tertulis:

Onder De Recering Van Z.M Willem III Koning den Nederlande, ENZ., EnZ., ENZ., Opcerict Voor Draaslicht 1869.

Wuih, saya enggak negerti maksudnya. Maklum, belum belajar bahasa Belanda. Tapi, apa ini artinya Belanda sudah datang pada tahun 1869. Ugh, sayangnya, enggak ada orang yang bisa ditanyakan. Benar-benar sepi . Yang ada cuma deburan ombak aja. Ya, keles nanya sama rumput bergoyang? Wkwkwk.

Sebuah Pohon yang tersisa akibat abrasi di Pulau Sabira, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta

Sebuah Pohon yang tersisa akibat abrasi di Pulau Sabira, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. (Foto: @Aryeenmita)

Akhirnya, saya beranjak untuk menyusuri pinggir pantai yang sudah ditembok—seperti benteng pendek—terdapat sebuah pohon yang tumbuh sendirian.

“Apa ini akibat abrasi ya?” tanya saya. Alhasil, kalau mau dibilang mana pantainya? Jadi bingung, karena sudah berbentur dengan laut dangkal.

Sekolah yang Modern

Saya juga menyempatkan berkunjung ke sekolah yang ada di sana. Tak disangka, sekolahnya ini lebih bagus dari kebanyakan SD dan SMP Inpres di Kota Jakarta. Namanya SD-SMP Negeri Satu Atap 02 Pulau Sabira.

Sekolahnya ini berlantai keramik putih. Ada pula alat peraga yang lengkap. Bahkan, dilengkapi dengan pendingin ruangan (AC). Kelas benar-benar bersih. Anak-anak pun begitu bersemangat bersekolah.

Inilah SD-SMP Negeri Satu Atap 02 Pulau Sabira. Ruangan kelas ini benar-benar keren. Dan didukung oleh PLTS.

Inilah SD-SMP Negeri Satu Atap 02 Pulau Sabira. Ruangan kelas ini benar-benar keren. Dan didukung oleh PLTS. (Foto:@Aryeenmita)

Begitu ditanya kepada salah satu guru, Haji Jamil Fahmi, sayangnya, AC tidak dapat digunakan setiap saat karena bergantung pada kondisi PLTS.

Yang memprihatikan, gedung yang ‘wah’ tak sepadan dengan tenaga pengajar. “Di sini gurunya hanya 7 orang, padahal siswanya bisa ratusan. Jadi, ada yang ngajar dobel, SD dan SMP. Rata-rata anak-anak di sini pas SMA pergi ke Pulau Pramuka atau ke Jakarta,” ujar Haji Jamil.

Sebenarnya masih banyak segudang cerita. Tapi, sepertinya kata-kata ini tak pernah cukup. Tapi, yang jelas, inilah wajah Pulau Sabira. Semoga masyarakat luas semakin peduli dan Pemerintah juga benar-benar melakukan pemerataan pembangunan. Ini juga bagian Jakarta, yang dielu-elukan sebagai kota modern itu. Jayalah terus Indonesiaku! Je t’aime ….

Au revoir  Sabira...Sampai jumpa lagi

Sayonara Sabira…Sampai jumpa lagi. (Foto:@Aryeenmita)

PS: Perjalanan ke Pulau Sabira, Juni 2014

Selamat Ulang Tahun, Sayang… (14 Juli 2014)

@Aryeenmita, Bogor, – Mungkin memang tidak ada perayaan khusus di ulang tahunmu, sayang. Usiamu kini sudah 33 tahun…wah, sudah tambah tua ya.

Tapi, sekali lagi memang aku bukanlah orang yang romantis. Tak ada lilin seperti film-film romantis, yap biasa disebut candle light dinner. Wuih, boro-boro deh.

Tahukah kamu, aku sangat ingin memberikan kejutan. Namun, mungkin belum sempat saja.

Arya dan moi, di  Yogyakarta (Foto: @Aryeenmita)

Arya dan moi, di Yogyakarta (Foto: @Aryeenmita)

Sejujurnya, aku kerap bertanya dalam batin,“Kok bisa ya, punya suami seperti dia, yang super cuek, idealis, beda karakter, super enggak romantis (mon cherie m’a jamais dit “Je t’aime”). So, aneh! Tapi, kami dipertemukan kembali setelah’ berpisah hampir belasan tahun lalu, padahal sejak SMP musuhan, ughh capek deh.”

Lucu juga sih, tapi ya itulah kenyataan yang mesti dijalani. Dan kini kamu sudah 33 tahun dan menjalani biduk pernikahan kita hampir 5 tahun.

Di hari ultahmu ini, aku hanya bisa berdoa…berdoa…berdoa. Inilah satu-satunya cara dapat mengungkapkan cinta, ku kepadaNya dan kepadamu.

Ya, kamu tidak perlu tahu apa isi doaku. Percayalah bahwa kamu dan aku saling mencintai lewat doa.

Sayang, melangkahlah dengan bijak bersama Dia dan kejarlah impian terbesarmu….

Tuhan senantiasa memberkati

Istri dan anakmu terkasih

 

Bongkar Diary

Sejujurnya tanpa direncanakan, aku menemukan

kembali tulisan kegalauanku di masa lalu. Ya! Inilah kisahnya…

 

Si Bayi Rafael (Foto: @Aryeenmita)

Si Bayi Rafael (Foto: @Aryeenmita)

Yogyakarta, September 2011, di RS Bethesda…

@Aryeenmita, Yogyakarta, – Rasanya hari itu luar biasa panik. Vonis dokter mengharuskan aku cesar.“Haruskah, dokter?” tanyaku.

Dokter dengan tegas menjawab,“Hanya itu cara terbaik menyelamatkan bayi. Dia terlilit dua kali tali pusat dan kurang cairan ketuban. Bila terlalu lama menunggu, dia meninggal di dalam rahim.”

“Saya tidak ingin mengambil risiko. Paling lambat hari minggu, lakukan operasi caesar.”

Si Arya lagi senyum (Foto:@Aryeenmita)

Si Arya lagi senyum (Foto:@Aryeenmita)

Usai konsultasi, aku hanya bisa terdiam sejenak memandang hasil USG. Dan masih terheran-heran, “Kan, kata dokter di Jakarta, semua posisi persalinan kondisinya bagus, tapi mengapa hasilnya berbeda, Aku benci caesar. Aku ingin merasakan persalinan normal.”

Tak habis akal, aku langsng mengaktifkan smartphone-ku. Ya, aku mulai cari tahu soal kondisi bayiku lewat bantuan ‘Mbah Google’. Waduh, memang benar.

Bila menunggu terlalu lama, justru bayiku yang ‘kasihan’. Tak pikir panjang lagi, aku bbm suamiku, Tio, meminta saran terbaik mengenai keputusan apa yang terbaik.

“Ayah (panggilanku kepadanya), aku takut. Ayah, datangnya hari sabtu pagi ya. Langsung ke RS.”

Tio menjawab,“Ya sudah, besok aku datang. Sudah tenang saja. Semuanya pasti lancar.”

Lagi-lagi, aku tidak bisa membendung air mata. Tiap lelehan air ini senantiasa memanjatkan doa yang tidak putus-putusnya untuk menghindari tindakan caesar.

Jujur, aku tidak siap mental dan finansial. Semua yang kupersiapkan hanya untuk persalinan normal. Kalau begini hasilnya, rasanya ingin menyerah saja.

Hari itu, aku diantar Mama. Langsung kuputuskan menanyakan total biaya caesar.

“Hah, perkiraan biaya kelas 1 memakan biaya 18 juta. Lalu, 11 juta untuk kelas 2.Waduh, dapat uang dari mana? Mana uang kami tak seberapa,“ gumamku dalam batin.

Kepalaku tertunduk lesu. Belum lagi, pengeluaran bulan ini bejibun, apalagi biaya ini harus keluar dari kantong pribadi.

Aku hanya bisa pasrah sembari memanjatkan doa semoga ada jalan. Beruntung, setiap doa yang terpanjat , Tuhan menjawab. Ada kebaikan yang tak terduga (Yes! There is the invisble hand).

Akhirnya, semua berjalan lancar dan lahirlah buah hati kami, Rafael HadyatmoAryaprastha. Uniknya, nama anak kami ini adalah gabungan dari nama Baptis (Rafael), eyang kakung (Hady + Atmo), dan orangtuanya (Pras+ Mita)

Ya! Arya, panggilannya, lahir 24 September pukul 12.30 dengan fisik yang sempurna.

Terima kasih atas kebaikanMu….

Ps: Tiada yang mustahil bagi DIA saat tiada jalan.

Hai….saya Aryeen

@Aryeenmita, Bogor, – Hai…perkenalkan, saya Aryeen. Inilah kali pertama, saya kembali menulis blog setelah sekian lama vakum. Bukan apa-apa, karena dulu saya lupa password di blog lama, jadi agak malas (jujur banget).

Akhirnya, saya pikir-pikir, kok enggak seru ya, dan sejujurnya saya kangen juga menulis lagi…hahaha.

Aryeenmita (Foto:@Aryeenmita)

Aryeenmita (Foto:@Aryeenmita)

Alasannya sederhana, saya sadar bahwa apa yang terjadi dalam hidup ini tak terulang lagi. Dan blog dapat menjadi salah satu dokumentasi hidup saya.

Tentu saja, saya juga enggak mau menikmatinya sendiri, mungkin di antara yang sempat mampir ke blog saya ini juga menikmatinya. Ya, inilah kekuatan berbagi.

Tanpa berpanjang kata, monggo…sugeng rawuh di rumah Aryeen yang bernama “Aryeenmita” (J.U.J.U.R– A.P.A– A.D.A.N.Y.A)

Salam hangat,

Aryeen Mita